Sabtu, 31 Desember 2016

Manusia Makhluk Belajar

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pada tahap awal filsafat mempersoalkan masalah manusia, demikian pula dengan pendidikan Islam. Ia tidak akan memiliki paradigma yang sempurna tanpa menentukan sikap konseptual filosofis tentang hakikat manusia, sebab bagaimanapun juga manusia adalah bagian dari alam ini. Untuk menjawab permasalahan di atas, terlebih dahulu dikemukakan prinsip-prinsip yang menjadi dasar filosofis bagi pandangan pendidikan Islam. Al Syaibani dalam hal ini mengemukakan delapan prinsip, yaitu:
a.       Manusia adalah makhluk paling mulia di alam ini.
b.      Kemulyaan manusia atas makhluk lain karena manusia diangkat sebagai khalifah (wakil) Allah yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.
c.       Manusia adalah makhluk berfikir yang menggunakan bahasa sebagai media.
d.      Manusia adalah makhluk tiga dimensi seperti segitiga sama kaki yang terdiri dari tubuh, akal, dan ruh.
e.       Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
f.       Manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan.
g.      Manusia sebagai individu berbeda dengan manusia lainnya.
h.      Manusia mempunyai sifat luwes dan selalu berubah melalui proses pendidikan.
 
Pemakaian kata manusia memiliki makna ganda, seperti terbukti dalam kalimat-kalimat berikut ini:
(a)Manusia tidak lain kecuali hewan, yang mengandung makna manusia adalah hewan.
(b)Manusia merupakan hasil sejarah, berarti tidak mengacu pada manusia, melainkan kepada kepribadiannya.
(c)Manusia adalah makhluk rohani, yang bermakna, manusia merupakan mahluk yang lebih dari raga, nyawa, atau jiwa.
(d)Bahwa manusia yang di dalam nya terdapat raga, namun berbeda dengan raga lainnya.
(e)Menggambarkan manusia sejenis kebajikan atau kedirian.


1.      Manusia sebagai Al-Insan
Di dalam al-quran kata insan disebut sebanyak 65 kali dalam 63 ayat. Kata insan berasal dari kata “uns” yang berarti jinak, harmoni dan tumpah, dan ada pula yang berpendapat bahwa kata “uns” berasal dari kata “nasiya” yang berarti lupa, atau berasal dari kata nasa yanusu yang berarti guncang. Manusia insan adalah manusia yang dapat menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak di ketahui nya, dalam hal ini secar simbolis tuhan merupakan sebagai guru yang maha luas ilmu nya, atau Al-Alim.
2.      Manusia sebagai Al- Basyar
Al- Basyar adalah manusia dalam kehidupan nya sehari-hari, yang berkaitan dengan kegiatan lahiriah, yang di pengaruhi oleh dorongan kodrat alamiahnya, seperti makan, minum, bersetubuh, dan mati mengakhiri kegiatanya.

3.      Manusia sebagai Bani Adam atau Zuriyat Adam
Kata Adam atau Zuriyat Adam juga mengandung arti, bahwa manusia sebagai mahluk sosial. Seperti dalam quran surat (QS. Al-Isra’ 17:70).
Dalam kegiatan belajar mengajar, salah satu tugas guru adah menggali potensi insan, basyar, dan al-nas yang dimiliki semua tersebut. Wewenang manusia di bidang pengetahuan, informasi, pandangan, keinginan, dan kecenderungan itu sangat luas dan tinggi.
 
Pandangan tentang fitrah yang akan memengaruhi kegiatan belajar mengajar yang semata-mata buka di tentukan oleh input semata, melainkan juga melalui proses thrutput yang di lakukan oleh guru dan kehendak Allah. Dengan demikian maka kegiatan belajar mengajar harus menyiapkan anak didik untuk siap mengikuti kegiatan belajar serta berbagai sarana prasarana, dan sebagainya. Dengan berbasis pada pemahaman tentang fitrah tersebut, maka secara konseptual, islam menganut paham individualistik dalam bidang pendidikan.
Belajar dalam Islam bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya dengan motivasi ibadah (lihat, QS. Az-Zariayat : 56). Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggungjawabkan secara moral kepada Allah SWT.      ( Lihat,  QS Al-Baqarah : 286).
Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya pun harus di bangun dan bersumber dari norma-norma Islam tersebut (wahyu).

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
 

Ibadah Mahdah dan Ibadah Ghairu Mahdah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pengertian Ibadah
 
Secara etomologis diambil dari kata ‘ abada, ya’budu, ‘abdan, fahuwa ‘aabidun. ‘Abid, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hatta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya.
Manusia adalah hamba Allah “‘Ibaadullaah” jiwa raga haya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin kayanya ketentuan Allah, dan diciptakan hanya untuk  ibadah atau menghamba kepada-Nya:
وما خلقت الجن والانس الا ليعبدونِ  56
Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu 
(QS. 51(al-Dzariyat ): 56).


Perbuatan manusia, secara umum, bisa kita bagi menjadi dua kategori:
Pertama: Ibadah mahdhah, alias “murni ibadah”. Inilah perbuatan yang dilakukan manusia dengan motivasi pokok: mendapatkan manfaat di akhirat, misalnya: salat, puasa ramadan, dan lain-lain.
Kedua: Ibadah ghair mahdhah atau “perkara non-ibadah”. Inilah segala hal yang dilakukan oleh manusia dengan motivasi pokok: mendapatkan manfaat duniawi, misalnya: jual beli, sewa-menyewa, dan lain-lain.
Masing-masing dari dua jenis tindakan manusia ini memiliki kaidah mendasar yang perlu diketahui oleh setiap muslim.

Semua kehidupan hamba Allah yang dilaksanakan dengan niat mengharap keridhaan Allah SWT itu bernilai ibadah. Beribadah itu hanya diri sendiri dan Allah yang tahu apakah ikhlas atau karena riya? Ibadah sendiri secara umum dapat dipahami sebagai wujud penghambaan diri seorang makhluk kepada Sang Khaliq. Penghambaan itu lebih didasari pada perasaan syukur atas semua nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada-Nya dengan menjalankan titah-Nya sebagai Rabbul ‘Alamin.
Kata “ibadah”  berasal dari bahasa Arab yang diartikan dengan taat, menurut, mengikut, berbakti, berkhidmat, tunduk, patuh, mengesakan dan merendahkan diri. Sedangkan secara istilah ibadah adalah setiap aktivitas muslim yang dilakukan ikhlas hanya untuk mengharap ridha Allah swt, penuh rasa cinta dan sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.  Seperti firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 162 :
قُلْ إِنَّ صَلأَتىِ وَ نُسُكىِ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتىِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam.”
Secara umum, bentuk perintah beribadah kepada Allah dibagi dua, yaitu sebagai berikut:
1.    Ibadah Mahdhah  atau Ibadah Khusus
Yang dimaksud dengan ibadah mahdhah adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu hubungan yang akrab dan suci antara seorang muslim dengan Allah SWT yang bersifat ritual (peribadatan), Ibadah mahdhah merupakan manifestasi dari rukun islam yang lima. Atau juga sering disebut ibadah yang langsung.  Selain itu juga ibadah mahdhah adalah ibadah yang perintah dan larangannya sudah jelas secara zahir dan tidak memerlukan penambahan atau pengurangan.
Jenis ibadah yang termasuk ibadah mahdhah, adalah :
a.    Shalat
Secara lughawi atau arti kata shalat mengandung beberapa arti yang beragam salah satunya do’a, itu dapat ditemukan contohnya dalam Al-Qur’an surat al-Taubah ayat 103:
وصل عليهم إن صلوتك سكن لهم
Berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka.
Secara terminologis ditemukan beberapa istilah diantarnya: “Serangkaian perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan disudahi salam”.
b.    Zakat
Zakat adalah salah satu ibadah pokok dan termasuk salah satu rukun Islam, yang berarti membersihkan, bertumbuh dan berkah. Zakat itu ada dua macam: yaitu zakat harta atau disebut juga zakat mal dan zakat diri yang dikeluarkan setiap akhir bulan ramadhan yang disebut juga zakat fitrah.
c.    Puasa
Puasa adalah ibadah pokok yang ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. Puasa secara bahasa bermakna , menahan dan diam dalam segala bentuknya. Secara terminologis puasa diartikan dengan “menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan syarat-syarat yang ditentukan”.
d.    Ibadah Haji
Secara arti kata, lafaz haji yang berasal dari bahasa arab, berarti “bersengaja”. Dalam artian terminologis adalah Menziarahi ka’bah dengan melakukan serangkaian ibadah di Masjidil Haram dan sekitarnya, baik dalam bentuk haji ataupun umroh.
e.    Umroh
Umroh adalah mengunjungi ka’bah dengan serangkaian khusus disekitarnya. Perbedaannya dengan haji ialah bahwa padanya tidak ada wuquf di Arafah, berhenti di Muzdalifah, melempar jumrah dan menginap di Mina.  Dengan begitu ia merupakan haji dalam bentuknya yang lebih sederhana, sehingga sering umroh itu disebut dengan haji kecil.
f.    Bersuci dari hadas kecil maupun besar.

Rumusan Ibadah Mahdhah adalah “KA + SS”
(Karena Allah + Sesuai Syari’at)

2.    Ibadah Ghairu Mahdhah

Yang dimaksud ibadah ghairu mahdhah berarti mencakup semua perilaku manusia yang hubungannya dengan sesama manusia, yaitu dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah swt, yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapat ridho Allah swt. Atau sering disebut sebagai ibadah umum atau muamalah, yaitu segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, lahir maupun batin yang mencakup seluruh aspek kehidupan seperti aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, seni dan pendidikan. Seperti qurban, pernikahan, jual beli, aqiqah, sadaqah, wakaf, warisan dan lain sebagainya.  Selain itu ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang cara pelaksanaannya dapat direkayasa oleh manusia, artinya bentuknya dapat beragam dan mengikuti situasi dan kondisi, tetapi substansi ibadahnya tetap terjaga. Seperti perintah melaksanakan perdagangan dengan cara yang halal dan bersih.

Ibadah yang termasuk Ibadah Ghairu Mahdhah, adalah:
a.    I’tikaf
Berdiam di masjid untuk berdzikir kepada Allah.
b.    Wakaf
Wakaf menurut bahasa berarti menahan sedang menurut istilah wakaf ialah memberikan suatu benda atau harta yang kekal zatnya kepada suatu badan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
c.    Qurban
Qurban secara bahasa berarti dekat, sedang secara istilah adalah menyembelih hewan yang telah memenuhi syarat tertentu di dalam waktu tertentu yaitu bulan Dzulhijjah dengan niat ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah.
d.    Shadaqah
Shadaqah adalah memberikan sesuatu tanpa ada tukarannya karena mengharapkan pahala di akhirat.
e.    Aqiqah
Aqiqah dalam bahasa arab berarti rambut yang tumbuh di kepala anak/bayi. Istilah aqiqah kemudian dipergunakan untuk pengertian penyembelihan hewan sehubungan kelahiran bayi.
f.    Dzikir dan Do’a


Ibadah dalam Islam harus dikerjakan dengan cara-cara berikut:
1.    Ikhlas, semata-mata mengharap ridha Allah swt
2.    Mahabbah dan tha’at (penuh rasa cinta dan tunduk)
3.    Istiqomah
4.    Iqtishad (dilakukan berdasarkan fitrah, sesuai dengan kapasitas dan tidak memisahkan antara yang satu dengan yang lain)
Dan hikmah ibadah adalah:
Ibadah yang benar akan melahirkan hikmah serta hasil yang dapat dirasakan di dunia dan juga di akhirat kelak, di antaranya sebagai berikut :
1.    Taqwa
2.    Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
3.    Diri dan harta menjadi suci
4.    Diri, fisik, dan psikis menjadi sehat
5.    Dimudahkan rezekinya dan anak keturunannya
6.    Meraih surga dan menjauhkan dari siksaan api neraka 
 
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jumat, 30 Desember 2016

BISNIS DENGAN ALLAH

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

“Mengapa harus memilih judul Bisnis Dengan Allah? Bukankah Tuhan tidak serupa dengan manusia dan Tuhan tidak akan pernah butuh apapun dari makhluk-Nya? Kenapa bisnis? Kenapa Tuhan? Apa landasannya? Bagaimana bentuk produk dan cara transaksinya?”

Bisnis dengan Allah adalah bisnis yang tidak akan pernah merugi.Dengan berbisnis dengan Allah, kita bisa mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akherat. Kalau kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dan Bisnis dengan Allah sukses dan lancar. Maka bisnis-bisnis yang lainnya akan jauh lebih mudah dan pasti lancar. Bisnis bersama Dzat yang mampu menghadirkan semua kekayaan, keajaiban, keindahan, kenikmatan dan keberkahan tanpa batas.

”Dia-lah Allah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah. (QS. Al-Fath (48) 4-5).

Diantara syarat atau rukun berbisnis dengan Allah adalah :
1. Bekerja. Bekerja adalah syarat pertama untuk mendekatkan rezeki yang tak terduga. Bagaimana agar pekerjaan kita diberkahi oleh Allah SWT.Sehingga mendekatkan kita pada datangnya rezeki yang tak terduga. Lakukan pekerjaan kita dengan cara berikut ini:
• Ambillah pekerjaan apa pun yang penting halal jangan merasa malu dan gengsi dengan pekerjaan kita.
• Awalilah dengan wudhu setiap akan mengawali pekerjaan kita.
• Niatkan pekerjaan kita semata-mata mencari ridho Allah agar Allah menghitung pekerjaan kita sebagai ibadah.
• Lakukan pekerjaan kita dengan penuh semangat dan optimis.
• Jujur dan Adillah.
Semoga dengan tips yang sederhana ini dapat membantu kita dalam mendekatkan diri kita pada rezeki yang tak terduga.

2. Kesabaran dan Fokus. Kesabaran adalah kunci yang akan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi orang yang sukses dan berhasil. Jika kita mau membaca dan merenungkan dalam-dalam kisah-kisah orang sukses di seantero dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang sabar, ulet, tekun,fokus,jujur, dan lain sebagainya.

3. Bertaubat dengan meningkatkan Iman dan Takwa. Taubat akan memberikan kekuatan kepada kita untuk mendapatkan cinta Allah. Dan Cinta Allah itu amat penting artinya bagi kehidupan kita. Bila Yang Maha Mencintai sudah mencintai kita, maka terbukalah gerbang langit. Allah akan mengabulkan setiap permohonan kita. Subhaanallah!

4. Tawakkal kepada Allah. Tawakkal tidak menghilangkan hukum kausalitas dan ikhtiariah. Bila kita bertawakkal kepada Allah SWT, maka Allah akan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Itulah janji Allah. Kita bisa baca dalam QS. Ath-Thalaaq ayat 2-3.

5. Bersilaturrahim. Silaturrahim memiliki kekuatan untuk menambah rezeki, tentu dari jalan yang tak terduga. Bersilaturrahim atas dasar ketakwaan. Allah-lah yang akan memberikan rezeki pada kita manakala kita banyak melakukan silaturrahim. Rezeki bukan datang dari orang yang kita datangi Allah-lah yang membalas kita dengan balasan yang berlipat. Dalam silaturrahim ada dua unsur: Pertama unzur ziarah/berkunjung kedua.Ihsan berbuat baik. Ketika ternyata setelah berkunjung diketahui ada keluarga/sanak kerabat yang membutuhkan bantuan maka terjadilah unzur berikutnya berbuat baik. Kalau semua orang menjalankan silaturrahim akan terjadi pemerataan ekonomi berbasis keluarga.

6. Bershodaqah. Ketika kita mengeluarkan shodaqah dengan niat, cara dan benar maka akan bernilai ibadah, mendatangkan pahala, serta memberikan keajaiban pada hidup kita.Rezeki tak terduga akan datang menghampiri kita. Cepat atau lambat!

7. Kejujuran. Kejujuran dan keadilan adalah akhlak yang amat baik di mata Allah, dijunjung tinggi dalam kehidupan social, prasyarat utama dalam bisnis yang professional, serta mengandung energy spiritual yang dahsyat dan luar biasa, yang mampu menarik cinta, rezeki, dan keridhoaan Allah SWT.
Dengan Takwa, Allah memberikan kemudahan dan jalan keluar dari setiap masalah kita. Dengan Takwa, Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak pernah kita bayangkan.Dan dengan Takwa, kita akan mendapatkan kekebalan dari berbagai pengaruh buruk dan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Berbisnis dengan Allah adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Bisnis yang luar biasa dahsyat, yang sudah digaransi Al-Qur’an pasti untung dunia akhirat (QS.As-Shaff 61:10). Karenanya, Anda sangat tepat untuk membaca, memahami, dan mengamalkan prospektus istimewa ini. Anda akan melihat kelembutan dan keindahan setiap penawaran-Nya. Anda akan merasakan keadilan dan keberkahan dalam setiap transaksinya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

“Manusia Sebagai Makhluk Sosial”

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Manusia dikatakan mahluk sosial yaitu mahluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia dikatakan mahluk sosial, juga di karenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Seringkali didasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing.
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya maksudnya tiap manusia saling membutuhkan satu sama lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Menurut pandangan Islam manusia secara etimologi disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya, berasal dari akar kata nasiya yang berarti lupa. Dan jika dilihat dari akar kata al-uns maka kata insan berarti jinak. Dari kedua akar kata tersebut kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak, dalam arti manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Keberadaan manusia sangat nyata sekali berbeda dengan makhluk yang lainnya. Seperti dalam kenyataannya manusia adalah makhluk yang berjalan di atas dua kaki dan memiliki kemampuan untuk berfikir. Sedangkan berfikir itu sendiri merupakan sifat dasar dari manusia yang menentukan hakekat manusia itu sendiri dan mebedakannya dengan makhluk lainnya.

Pada awalnya, Allah Ta’ala menciptakan seorang manusia di muka bumi ini, yaitu Adam AS. Ketika itu Adam as berada di Syurga bersama Iblis. Namun, karena enggannya Iblis mengikuti perintah Allah swt untuk sujud kepada Adam as maka Allah swt usir salah satu jenis dari kalangan jin ini dari syurga. Tinggallah Nabi Adam AS sendirian di surga.
Ibnu Katsir menggambarkan kehidupan nabi Adam AS di syurga dengan cukup apik. Dia (Adam) berjalan-jalan sendirian di surga dalam kesepian. Saat dia tertidur, kemudian bangun, terlihat seorang wanita tengah duduk di dekat kepalanya. Adam kemudian menyapa:”Siapakah anda?” Jawab wanita tersebut:”Wanita”. Adam bertanya kembali:”Untuk apa anda diciptakan?” Jawab wanita tersebut:”Supaya anda jinak kepadaku”.
Lalu, para Malaikat mendatangi Nabi Adam AS untuk mengetahui
sejauh mana ilmunya. Mereka bertanya:”Siapakah namanya, Adam?” Jawab Adam:”Hawwa!”
Malaikat bertanya:”Mengapa namanya Hawwa?” Jawab Adam:”Karena dia
dijadikan dari benda hidup” (Tafsir Ibnu Katsir).
Itulah interaksi sosial pertama yang terjadi antara dua manusia. Interaksi antar dua manusia atau lebih merupakan fithrah basyariyah (naluri manusia) yang menjadikan hidup menjadi indah dan lebih bermakna.

Menurut pandangan Islam, hidup bermasyarakat bagi manusia adalah sunnatullah. Prinsip hidup bermasyarakat banyak diuraikan di dalam Al-Qur'an.

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
﴿١٠٣﴾

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk
(Q. S. Ali Imran: 103)

Islam memandang bahwa bermasyarakat adalah suatu keharusan. Mustahil manusia dapat hidup terpencil seorang diri. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sikap tolong menolong menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan setiap muslim diwajibkan untuk memikirkan keadaan masyarakat di sekitarnya. Meski disisi lain Islam mengakui hak individu (HAM), bukan berarti seorang muslim boleh lepas tanggung jawab di dalam kehidupan bersama. Islam sangat menekankan pentingnya menghormati dan mencintai sesama. Rasulullah SAW bersabda :
"Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga ia (dapat) mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari).
Selain hidup tolong menolong dan bermasyarakat, kecenderungan manusia lainnya adalah berorganisasi. Secara individu, setiap manusia tentu memiliki suatu cita-cita atau keinginan. Jika cita-cita tersebut begitu besar maka seseorang akan butuh pertolongan orang lain. Bahkan bukan tidak mungkin seseorang akan meminta bantuan banyak pihak untuk mewujudkan keinginannya. Pencapaian tujuan yang melibatkan banyak orang itulah yang kemudian membutuhkan sebuah pengaturan, dalam istilah lain pengaturan ini biasa disebut pengorganisasian, dengan pengorganisasian, tujuan atau keinginan akan lebih mudah tercapai karena proses pencapaiannya lebih teratur dan terarah. 
Masyarakat merupakan wadah bagi para individu untuk mengadakan interaksi sosial dan interelasi sosial. Interaksi merupakan aktivitas timbal balik antar individu dalam suatu pergaulan hidup bersama. Interaksi dimaksud, berproses sesuai dengan perkembangan jiwa dan fisik manusia masing-masing serta sesuai dengan masanya dari mulai interaksi non formal seperti berteman dan bermasyarakat sampai interaksi formal seperti berorganisasi, dan lain-lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi manusia hidup bermasyarakat, yaitu:
1.      Faktor alamiah atau kodrat Tuhan.
2.      Faktor saling memenuhi kebutuhan.  
3.      Faktor saling ketergantungan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Nabi Muhammad Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bulan Rabiul Awal lebih dari 14 abad yang lalu, Allah menurunkanseorang hamba istimewa-Nya ke dunia. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Yang mengemban misi penting untuk membentuk akhlak umat manusia mulia dan sempurna sebagaimana yang Allah kehendaki. Allah mengutus Nabi Muhammad dengan maksud menciptakan umat manusia sebagai khalifah bumi dalam rangka ikhlas beribadah kepada-Nya. Manusia adalah makhluk Allah yang memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang mendorong manusia untuk selalu dinamis berubah ke segala arah. Kecenderungan hawa nafsu yang tak terkontrol sehingga banyak melahirkan perbuatan-perbuatan maksiat dan kerusakan di muka bumi telah lama dikhawatirkan oleh para malaikat ketika Allah mengutarakan maksudnya kepada para malaikat bahwa Allah akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi.



Artinya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”, (Q.S. Al Baqarah: 30)

Kekhawatiran malaikat telah terbukti, betapa kita saksikan banyak manusia saling bunuh-membunuh, maksiat merajalela bahkan tanpa malu-malu, berjudi, mabuk-mabukan, berzina, merampas hak orang lain. Semua itu dilakukan  terus-menerus bahkan sampai saat ini. Kerusakan akhlak terus terjadi. Salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad adalah terciptanya ketentraman, kebahagian dan kesejahteraan hidup seluruh makhluk di seluruh dunia hingga akhir zaman.

Diutusnya Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak antara lain.
1.      Menegakkan kalimat tauhid (Laa ilaaha illallaah).
2.      Menyeru kepada manusia untuk menyembah hanya kepada Allah.
3.      Membawa Rahmat.
4.      Memberikan petunjuk ke jalan yang benar.
Sebagaimana yang telah ada dalam firman-Nya.
 



Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya. “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (Q.S. Al Anbya: 25)




Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbya: 107)





Tidak bisa dipungkiri bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling sukses membawa manusia yang dulunya jahiliyah, buta huruf, buta prilaku, buta segalanya, menjadi manusia utama, berakhlak mulia, menuju zaman yang terang benderang.
Beberapa sifat Nabi Muhammad SAW antara lain.
1.      Siddiq : Benar dalam perkataan dan perbuatan.
2.      Amanah : Dapat dipercaya.
3.      Fatanah : Cerdas, pandai atau pintar.
4.      Tablig : Menyampaikan wahyu atau risalah dari Allah kepada orang lain.
Rasulullah adalah teladan yang baik, setiap orang yang ingin melakukan perbuatan, hendaklah mencontoh Rasulullah SAW.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pelabuhanku Tersayang

Assalamu\alaikum Wr. Wb.

Hai.. berhubung penulis dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, penulis ingin berbagi satu puisi yang ditunjukkan untuk Ibu pada hari Ibu (Walaupun Hari Ibu udah lewat :v)

Pelabuhanku Tersayang
Gamma Uswatun Hasanah

Ketika mentari tak lagi mampu menyombongkan sinarnya.
Bulan memelukku lebih hangat dari pelukan rasa bersalah.

Singaraja, Desember 2016

Shalat Jama' dan Qashar

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
 
Adakalanya dalam beberapa waktu kita mengadakan perjalanan jauh, misalnya karyawisata, mengunjungi kakek dan nenek di kampung halaman atau keperluan lainnya. Terkadang kita juga mengalami coban berupa sakit sampai-sampai tidak dapat bangun, Hal itu menyebabkan kita sering menjumpai kesulitan untuk melakukan ibadah salat.  Padahal salat merupakan kewajiban umat Islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun juga.
Melihat hal ini,salat seolah merupakan suatu beban yang memberatkan. Ternyata tidaklah demikian. Islam adalah agama yang memberi kemudahan dan keringanan terhadap pemeluknya di dalam rutinitas ibadah kepada Allah swt.  Hal ini menandakan kasih sayang Allah kepada umat Islam sedemikian besar dengan cara memberikan rukhsah dalam melaksanakan salat dengan cara jamak dan qasar dengan syarat-syarat tertentu. Apa sajakah itu? Mari kita pelajari materi berikut ini.
A Salat Jamak
  1. Pengertian Salat Jamak.
Salat jamak adalah salat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua salat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu. Misalnya menggabungkan salat Duhur dan Asar dikerjakan pada waktu Duhur atau pada waktu Asar. Atau menggabungkan salat magrib dan ‘Isya dikerjakan pada waktu magrib atau pada waktu ‘Isya. Sedangkan salat Subuh tetap pada waktunya tidak boleh digabungkan dengan salat lain.
Hukum mengerjakan salat Jamak adalah mubah (boleh) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan.
Rasulullah saw bersabda:
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمْ اِذا رَحِلَ قَبْلَ اَنْ تَزِيْغَ الشَمْسُ اخِرَ الظُهْرِ اِلى وَقْتِ العَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فَاِنْ زَاغَتْ الشَمْسُ قَبْلَ اَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُهْرَ ثُمَّ رَكِبَ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: dari Anas, ia berkata: Rasulullah apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat duhur sampai waktu asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua salat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu duhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan salat duhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat). (H.R. Bukhari dan Muslim)
 
Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah menjamak salat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal menunjukkan bahwa menggabungkan dua salat diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab tertentu.
Salat jamak boleh dilaksanakan karna beberapa alasan (halangan) berikut:
  1. Dalam perjalanan jauh minimal 81 km (menurut kesepakatan sebagian besar imam madhab)
  2. Perjalanan itu tidak bertujuan untuk maksiat.
  3. Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit,  hujan lebat, angin topan dan bencana alam.
Salat fardu dalam sehari semalam yang boleh dijamak adalah pasangan salat duhur dengan asar dan salat magrib dengan ‘isya. Sedangkan salat subuh tidak boleh dijamak. Demikian pula orang tidak boleh menjamak salat asar dengan magrib.
Salat jamak dapat dilaksanakan dengan dua cara:
  1. Jamak Takdim (jamak yang didahulukan), yakni menjamak dua salat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. Misalnya menjamak salat duhur dengan asar, dikerjakan pada waktu duhur ( 4 rakaat salat duhur dan 4 rakaat salat asar) atau menjamak salat magrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu magrib (3 rakaat salat magrib dan 4 rakaat salat ‘isya).
  2. Jamak Ta’khir (jamak yang diakhirkan), yakni menjamak dua salat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. Misalnya menjamak salat duhur dengan asar, dikerjakan pada waktu asar atau menjamak salat magrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu ‘isya.
Dalam melaksanakan salat jamak takdim maka harus berniat menjamak salat kedua pada waktu yang pertama, mendahulukan salat pertama dan dilaksanakan berurutan, tidak diselingi perbuatan atau perkataan lain. Adapun saat melaksanakan jamak ta’khir maka harus berniat menjamak dan berurutan. Tidak disyaratkan harus mendahulukan salat pertama. Boleh mendahulukan salat pertama baru melakukan salat kedua atau sebaliknya.
  1. 2.    Praktik Salat Jamak Takdim /Takhir
  2. Cara Melaksanakan Salat Jamak Takdim
Misalnya salat duhur dengan asar: salat duhur dahulu empat rakaat kemudian salat asar empat rakaat, dilaksanakan pada waktu duhur.
Tata caranya sebagai berikut:
1)        Berniat salat duhur dengan jamak takdim. Bila dilafalkan yaitu:
  1. اُصَلِّى فَرْضَ الظُهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ العَصْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
” Saya niat salat salat duhur empat rakaat digabungkan dengan salat asar dengan jamak takdim karena Allah Ta’ala”
2)   Takbiratul ihram
3)   Salat duhur empat rakaat seperti biasa.
4)   Salam.
5)   Berdiri lagi dan berniat salat yang kedua (asar), jika dilafalkan sebagai berikut;
  1. اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ الظُهْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
“ Saya niat salat asar empat rakaat digabungkan dengan salat duhur dengan jamak takdim karena Allah ta’ala.
6)   Takbiratul Ihram
7)   Salat asar empat rakaat seperti biasa.
8)   Salam.
Catatan: Setelah salam pada salat yang pertama harus langsung berdiri,tidak boleh diselingi perbuatan atau perkataan misalnya zikir, berdo’a, bercakap-cakap dan lain-lain).
  1. Cara Melaksanakan Salat Jamak Ta’khir.
Misalnya salat magrib dengan ‘isya: boleh salat magrib dulu tiga rakaat kemudian salat ‘isya empat rakaat, dilaksanakan pada waktu ‘isya.
Tata caranya sebagai berikut:
1)   Berniat menjamak salat magrib dengan jamak ta’khir. Bila dilafalkanyaitu:
2)     اُصَلِى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ العِشَاءِ فَرْضًا للهِ تََعَالَى
“ Saya niat salat salat magrib tiga rakaat digabungkan dengan salat ‘isya dengan jamak ta’khir karena Allah Ta’ala”
3)   Takbiratul ihram
4)   Salat magrib tiga rakaat seperti biasa.
5)   Salam.
6)   Berdiri lagi dan berniat salat yang kedua (‘isya), jika dilafalkan sebagai berikut;
7)        اُصَلّى فَرْضَ العِسَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ المَغْرِبِ فَرْضًا للهِ تََعَالَى
“ Saya berniat salat ‘isya empat rakaat digabungkan dengan salat magrib dengan jamak ta’khir karena Allah Ta’ala.”
8)   Takbiratul Ihram
9)   Salat ‘isya empat rakaat seperti biasa.
10)    Salam.
 
Catatan: Ketentuan setelah salam pada salat yang pertama sama seperti salat jamak takdim. Untuk menghormati datangnya waktu salat, hendaknya keuika waktu salat pertama sudah tiba, maka orang yang akan menjamak ta’khir, sudah berniat untuk menjamak ta’khir salatnya, walaupun salatnya dilaksanakan pada waktu yang kedua.
 
B. Salat Qasar
 
1. Pengertian Salat Qasar
Salat qasar adalah salat yang dipendekkan (diringkas), yaitu melakukan salat fardu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Salat fardu yang boleh diringkas adalah salat yang jumlah rakaatnya ada empat yaitu duhur , asar dan ‘isya.
Hukum melaksanakan salat qasar adalah mubah (diperbolehkan) jika syaratnya terpenuhi.
Allah berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya: “ Dan apabila kamu beprgian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqasar salatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” Q.S.(An Nisa[4]: 101)
  1. Syarat Sah Salat Qasar
Syarat-syarat salat qasar sama dengan syarat salat jamak hanya ditambah persyaratan bahwa salat yang dapat diqasar adalah salat yang jumlah rakaatnya empat, tidak makmum pada orang yang salat sempurna (biasa, tidak qasar)
  1. Praktik Salat Qasar
Ambil contoh salat qasar duhur.
Tata caranya sebagai berikut:
  1. Berniat salat dengan cara qasar. Jika dilafalkan sebagai berikut:
  2. اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا للهِ تَعَالى
Artinya: “ saya berniat salat duhur dua rakaat diqasar karena Alla Ta’ala”
  1. Takbiratul ihrom.
    1. Salat dua rakaat
    2. Salam.
C.  Salat Jamak Qasar
  1. Pengertian Salat Jamak Qasar.
Salat jamak qasar adalah menggabungkan dua salat fardu dalam satu waktu sekaligus meringkas (qasar).
Hukum dan syaratnya sama dengan salat jamak dan salat qasar. Salat jamak qasar dapat dilaksanakan secara takdim maupun ta’khir.
Umat Islam dapat melakukan salat fardu secara jamak, qasar maupun jamak qasar asalkan memenuhi syarat sahnya. Hal ini merupakan rukhsah (keringanan )yang diberikan Allah agar manusia tidak meninggalkan salat fardu walau dalam keadaan apapun. Allah tidak menghendaki kesukaran pada hambaNya.
  1. Praktik Salat Jamak Qasar
Salat Jamak Qasar menggunakan Jamak Takdim: misalnya salat duhur dengan asar. Tata caranya sebagai berikut:
  1. Berniat menjamak qasar salat duhur dengan jamak takdim. Jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ العَصْرُ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat salat duhur dua rakaat digabungkan dengan salat asar dengan jamak takdim, diqasar karena Allah Ta’ala”
  1. Takbiratul ihram.
  2. Salat duhur dua rakaat (diringkas)
  3. Salam.
  4. Berdiri dan niat salat asar, jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلّى فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَِى الظُهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat salat asar dua rakaat digabungkan dengan salat duhur dengan jamak takdim, diqasar karena Allah Ta’ala”
  1. Takbiratul ihram.
  2. Salat asar dua rakaat (diringkas)
  3. Salam
Salat Jamak Qasar menggunakan Jamak Ta’khir: misalnya salat magrib dengan ‘isya. Tata caranya sebagai berikut:
  1. Berniat menjamak qasar salat magrib denganjamak ta’khir. Jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلّى فَرْضَ المغرب ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا اِلَى العِشَاءِ جَمْعَ تَاْخِيْرًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat salat magrib tiga rakaat digabungkan dengan salat isya’ dengan jamak ta’khir karena Allah Ta’ala.”
  1. Takbiratul ihram.
  2. Salat magrib tiga rakaat seperti biasa.
  3. Salam.
  4. Berdiri dan niat salat isya’. Jika dilafalkan sebagai berikut:
اُصَلّى فَرْضَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ المَغْرِبُ جَمْعَ تَاْخِيْرًا للهِ تَعَالَى
“ Saya berniat salat isya’ dua rakaat digabungkan dengan salat magrib dengan jamak ta’khir, diqasar karena Allah Ta’ala.”
  1. Takbiratul Ihram.
  2. Salat isya’ dua rakaat (diringkas)
  3. Salam

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.