Pada tahap awal filsafat mempersoalkan masalah manusia, demikian pula dengan pendidikan Islam. Ia tidak akan memiliki paradigma yang sempurna tanpa menentukan sikap konseptual filosofis tentang hakikat manusia, sebab bagaimanapun juga manusia adalah bagian dari alam ini. Untuk menjawab permasalahan di atas, terlebih dahulu dikemukakan prinsip-prinsip yang menjadi dasar filosofis bagi pandangan pendidikan Islam. Al Syaibani dalam hal ini mengemukakan delapan prinsip, yaitu:
a. Manusia adalah makhluk paling mulia di alam ini.
b. Kemulyaan
manusia atas makhluk lain karena manusia diangkat sebagai khalifah
(wakil) Allah yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.
c. Manusia adalah makhluk berfikir yang menggunakan bahasa sebagai media.
d. Manusia adalah makhluk tiga dimensi seperti segitiga sama kaki yang terdiri dari tubuh, akal, dan ruh.
e. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
f. Manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan.
g. Manusia sebagai individu berbeda dengan manusia lainnya.
h. Manusia mempunyai sifat luwes dan selalu berubah melalui proses pendidikan.
Pemakaian
kata manusia memiliki makna ganda, seperti terbukti dalam
kalimat-kalimat berikut ini:
(a)Manusia tidak lain kecuali hewan, yang
mengandung makna manusia adalah hewan.
(b)Manusia merupakan hasil
sejarah, berarti tidak mengacu pada manusia, melainkan kepada kepribadiannya.
(c)Manusia adalah makhluk rohani, yang bermakna,
manusia merupakan mahluk yang lebih dari raga, nyawa, atau jiwa.
(d)Bahwa manusia yang di dalam nya terdapat raga, namun berbeda dengan raga
lainnya.
(e)Menggambarkan manusia sejenis kebajikan atau kedirian.
1. Manusia sebagai Al-Insan
Di dalam al-quran kata insan disebut sebanyak 65 kali dalam 63 ayat. Kata insan berasal dari kata “uns” yang berarti jinak, harmoni dan tumpah, dan ada pula yang berpendapat bahwa kata “uns” berasal dari kata “nasiya” yang berarti lupa, atau berasal dari kata nasa yanusu yang berarti guncang. Manusia
insan adalah manusia yang dapat menerima pelajaran dari tuhan tentang
apa yang tidak di ketahui nya, dalam hal ini secar simbolis tuhan
merupakan sebagai guru yang maha luas ilmu nya, atau Al-Alim.
2. Manusia sebagai Al- Basyar
Al-
Basyar adalah manusia dalam kehidupan nya sehari-hari, yang berkaitan
dengan kegiatan lahiriah, yang di pengaruhi oleh dorongan kodrat
alamiahnya, seperti makan, minum, bersetubuh, dan mati mengakhiri
kegiatanya.
3. Manusia sebagai Bani Adam atau Zuriyat Adam
Kata
Adam atau Zuriyat Adam juga mengandung arti, bahwa manusia sebagai
mahluk sosial. Seperti dalam quran surat (QS. Al-Isra’ 17:70).
Dalam
kegiatan belajar mengajar, salah satu tugas guru adah menggali potensi
insan, basyar, dan al-nas yang dimiliki semua tersebut. Wewenang manusia
di bidang pengetahuan, informasi, pandangan, keinginan, dan
kecenderungan itu sangat luas dan tinggi.
Pandangan
tentang fitrah yang akan memengaruhi kegiatan belajar mengajar yang
semata-mata buka di tentukan oleh input semata, melainkan juga melalui
proses thrutput yang di lakukan oleh guru dan kehendak Allah. Dengan
demikian maka kegiatan belajar mengajar harus menyiapkan anak didik
untuk siap mengikuti kegiatan belajar serta berbagai sarana prasarana,
dan sebagainya. Dengan
berbasis pada pemahaman tentang fitrah tersebut, maka secara
konseptual, islam menganut paham individualistik dalam bidang
pendidikan.
Belajar dalam Islam bertujuan untuk memperoleh
kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya dengan motivasi ibadah
(lihat, QS. Az-Zariayat : 56). Oleh sebab itu segala aktivitas yang
berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Allah SWT. ( Lihat, QS Al-Baqarah : 286).
Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk
mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya
pun harus di bangun dan bersumber dari norma-norma Islam tersebut
(wahyu).
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar